Tuesday, February 23, 2010
Ikan-Ikan Pun Dibangunkan Rumah
Kerusakan terumbu karang yang semakin memprihatinkan mengakibatkan mahluk hidup di lautan itu, utamanya ikan karang yang bernilai ekonomis tinggi serta biota laut lainnya kehilangan tempat berteduh dan berkembang biak .
Akibatnya jelas sekali adalah menurunnya potensi penangkapan ikan. Pada beberapa tempat di Sulteng, kegiatan usaha penangkapan ikan tangkap umumnya telah memasuki fase stagnasi bahkan penurunan produksi.
Di Teluk Tomini, zona penangkapan ikan terbesar di Provinsi Sulteng misalnya, ketersediaan ikan sudah masuk dalam kategori waspada karena aktivitas eksploitasi yang besar dan rusaknya ekosistem di sebagian kawasan itu.
"Ikan di teluk Tomini hari ini sudah di posisi lampu kuning. Katakanlah potensi ikannya 10, sekarang sudah sembilan yang dieksploitasi," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo belum lama ini.
Dia mengatakan, teluk Tomini merupakan salah satu sasaran nelayan dari berbagai negara. Bahkan, nelayan dari laut Arafura pun masuk ke wilayah ini.
Pengusaha yang terlibat dalam sektor perikanan kata dia, sudah menggunakan kapal besar untuk mengeruk potensi ikan di kawasan itu.
"Coba lihat di Gorontalo, di sana banyak kapal besar yang beroperasi. Itu tidak saja milik nelayan, tapi milik pengusaha-pengusaha besar," kata Hasanuddin.
Selain dieksploitasi, ancaman berkurangnya potensi ikan juga akibat rusaknya ekosistem di kawasan teluk Tomini.
Laman Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumapapua (Sulawesi Maluku Papua) Kementrian Negera Lingkungan Hidup menyebutkan, kerusakan ekosistem yang parah meliputi kehancuran terumbu karang, hutan bakau, serta diperparah dengan kerusakan sejumlah daerah aliran sungai yang bermuara ke teluk Tomini.
Kerusakan itu antara lain terdapat di Taman Nasional Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo UnaUna, Sulawesi Tengah. Dikhawatirkan, kerusakan di teluk Tomini dan pulau-pulau yang mengitarinya kelak makin parah, sehingga kebanggaan menjadikan kawasan ini sebagai sokoguru kehidupan masyarakat setempat, tidak dapat tercapai.
"Sudah ada beberapa penelitian yang menyatakan kerusakan ekosistem di teluk Tomini jika tidak segera ditangani bisa merusak populasi ikan dan sumber daya hayati lainnya," kata Hasanuddin yang memperkirakan tingkat kerusakan terumbu karang dan bakau di daerahnya mencapai sekitar 50 persen.
Dampaknya dari itu semua tidak hanya dirasakan oleh mahluk hidup dan ekosistem di laut tetapi juga oleh para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan di laut.
Rumah ikan
Menyikapi hal tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng mencoba sebuah alternatif konservasi sejak tahun 2008 dengan membuat terumbu karang buatan (artificial reefs), masing-masing berbentuk rumah ikan (fish home) dan `biorock`.
Rumah ikan itu berupa material beton yang dibuat sedemikian rupa dan diletakkan di dasar laut sehingga membentuk satu koloni yang mampu membentuk karang dengan cepat sekaligus memberikan perlindungan bagi populasi ikan untuk berkembang biak.
Penempatan material dilakukan pada kedalaman 10-20 meter dimana sinar matahari masih dapat menjangkau dasar perairan agar karang dapat bertumbuh dengan baik. `
Fish home` merupakan alat yang terbuat dari beton kasar untuk menarik dan mengumpulkan ikan serta tempat ikan berkembang biak, berukuran 1 x 1 x 1 meter menyerupai tong sampah terbalik.
Beton ini mempunyai banyak lubang dengan diameter yang bervariasi. Penggunaan beton kasar bertulang berfungsi agar konstruksi kokoh dalam air serta proses penempelan biota laut lebih cepat terjadi. Lubang berdiameter berbeda berfungsi sebagai tempat perlindungan ikan sekaligus sebagai tempat beberapa jenis cephalopoda bertelur.
Dari rumah ikan itu diharapkan terbentuk rantai makanan sehingga mampu menarik ikan karang atau demersal ekonomis tinggi lainnya untuk tinggal. Pada beberapa titik dilakukan pencangkokan karang untuk lebih mempercepat proses pembentukan karang.
Sedangkan biorock terbuat dari kerangka besi berbentuk terowongan dengan panjang berkisar 5-7 meter. Pada beberapa titik tertentu dilakukan pencangkokan berbagai jenis karang. Selanjutnya besi kerangka akan dialiri listrik arus lemah sebagai stimulus tumbuhnya karang.
"Pemasangan biorock lebih ditekankan pada upaya konservasi lingkungan sekaligus sebagai wahana wisata bahari terutama sebagai daerah titik penyelaman," kata. Kepala Bidang Kelautan Dinas KP Sulteng Ir. Muhlis Lamboka, S.Pi.
Dinas KP Sulawesi Tengah telah mengembangkan sistem budidaya ikan karang melalui pembangunan rumah ikan ini sejak tahun 2008 Pulau Langian, Kabupaten Tolitoli, Teluk Palu, Labean dan Marantale di Kabupaten Donggala serta kabupaten Tojo Una-Una.
Di setiap lokasi tersebut, ditempatkan puluhan rumah ikan dan biorock serta telah dibentuk kelompok-kelompok nelayan (satu kelompok per lokasi) yang akan mengelola rumah-rumah ikan tersebut.
Tahun 2010 ini, kata Hasanuddin, selain memperluas lokasi pembangunan rumah ikan, pihaknya akan melakukan penebaran ikan karang (sea ranching) di lokasi-lokasi tersebut. Ikan-ikan karang itu diharapkan berkembang biak dalam beberapa bulan, untuk kemudian dipanen oleh nelayan yang telah berkelompok.
Penangkapan akan diatur baik mengenai alat tangkap yang digunakan maupun jumlah ikan yang ditangkap, karena untuk menjaga kelangsungan penangkapan, maka alat yang digunakan harus mempunyai kualifikasi tertentu dimana ikan-ikan kecil tidak terjaring dan jumlahnya pun dibatasi.
"Kalau setiap nelayan bisa menangkap lima kilogram saja ikan karang dalam sehari, maka pendapatan mereka bisa mencapai Rp100.000/hari. Ini penghasilan yang cukup signifikan bagi nelayan pantai untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," ujarnya.
Pola seperti ini, menurut Hasanuddin, memberi dampak berganda dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan yakin memperbaiki kesejahteraan nelayan, meningkatkan produksi perikanan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, menambah pendapatan daerah serta menjaga kelestarian ekosistem laut.
Sumber : http://beritadaerah.com
Sunday, January 24, 2010
You are made in the battle field
Percaya atau enggak, kualitas kita dihitung dan ditimbang dari kualitas lawan-lawan yang kita hadapi sehari-hari. Kedengaran aneh ? memang aneh…tapi itulah fakta hidup kita di planet kecil ini. Setiap hari umat manusia bergumul dengan berbagai hal demi mencapai keluasan yang tertinggi, achievement yang paling baik, dan uang yang terbanyak (dengan beberapa pengecualian tentunya). Tapi sadarkah kita selain dari semua aspek kerja keras dan usaha itu, ada satu yang harus kita temukan untuk membuktikan kualitas kita…dan itu adalah musuh yang berkualitas.
Apa aja yang bisa dikategorikan sebagai “musuh berkualitas” ? ada banyak ? Anda mau contoh ? bisa dimulai dengan pertanyaan…”apa yang paling menyusahkan selama hidup Anda” ? apakah itu pekerjaan Anda ? studi Anda ? dosen killer yang pengen kita cekik ? boss Anda yang brengsek dan banyak mau ? your life sucks? rekan Anda yang nyebelin ? segala sesuatu yang bisa anda anggap “sucks”, bisa kita anggap sebagai “our biggest enemy”, or just plainly…sorry…”a pain in the ass”, dan sesuatu yang bikin kita down seharian…termenung, marah-marah sendiri…segala yang bikin semangat kita down..
Tapi sekarang kita perlu pandangan yang baru, that you are made by your enemy, untuk tepatnya, by the quality of your enemy. Kehidupan kita sehari-hari yang menyebalkan dan memuakkan adalah segala sesuatu yang dapat membuat kita berdiri semakin tegak. Bayangkan jika “a pain in my ass” gak dengan segera anda taklukkan…yah makin sakit pasti rasanya. Apakah kita bakal bengong-bengong aja dan berkata “Hey world ! my life sucks ! see ? I’ve got a pain in my ass !” nonsense ! anda gak akan pernah dapat mencabut rasa sakit itu hanya dengan koar-koar gak jelas sambil terus-menerus protes ! get up ! do something ! get active ! kick some ass ! get that pain out from your ass ! don’t be such a crybaby ! get up ! move it !
Dengan begitu…anda akan belajar bahwa rasa sakit yang anda alami bakalan menjadi sesuatu yang justru bakal membentuk anda, you will be something ! dan rasanya akan hebat ! percayalah ! ingat…”a pain is a great teacher”…dan setelah berkali-kali mengalami pertempuran hidup, anda akn belajar bahwa ternyata masih banyak yang harus anda pelajari ! more enemy to be conquered ! more enemy to be vanquished ! kalahkan dan kuasai ! Your pain and enemy will make you a big, powerful and strong stone giant ! And the whole world shall see who i am, The conqueror of my enemy ! asal jangan kebanyakan terima “pain in the ass” aja sodara…itu sih namanya gak belajar..LOL
Sumber : Hidup Gaya
Monday, December 14, 2009
Candi Singosari: Dibangun Untuk Sang Raja
Jika kita selalu mengidentikkan candi dengan Jawa Tengah, maka anggapan ini tidak lagi benar, karena Malang juga memilikinya. Sebuah candi yang dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Singosari, Raja Kertanegara, telah menjadi salah satu tempat wisata di Kabupaten Malang. Candi ini adalah candi Singosari, atau candi “Singhasari”, yang merupakan bangunan tempat pemujaan raja atau leluhur raja .
Terletak di lembah yang sejuk, di sebuah desa yang tenang, di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna, candi Singosari dapat dijangkau sekitar 40 menit dari kota Malang, tepatnya di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang (sekitar 10 km sebelah utara dari kota Malang).
Baca SelanjutnyaFriday, May 8, 2009
7 Proteksi Data BlackBerry Indosat
Dengan i-Guard, pelanggan BlackBerry Indosat bisa melakukan backup dan mengembalikan data pribadinya (restore) secara nirkabel dari jarak jauh, termasuk melacak lokasi perangkat BlackBerry yang hilang atau tercuri.
Adapun, fitur utama dari i-Guard powered by SmrtGuard, antara lain:
1. Over-the-Air Backup
Kemampuan untuk melakukan backup data pribadi pada BlackBerry dan dapat dijadwalkan secara otomatis dan berkala. Semua data yang telah di-backup/disimpan dapat diakses melalui portal web SmrtGuard.
2. Over-the-Air Restore
Kemampuan untuk mengembalikan data-data pribadi secara nirkabel ke smartphone BlackBerry. Kemudahan proses perpindahan data pribadi ke handset BlackBerry yang baru atau jika pelanggan ingin melakukan penggantian handset.
3. Remote Track and wipe
Keberadaan smartphone BlackBerry dapat dilacak dari jarak jauh melalui web portal i-Guard. Ini akan membantu menentukan apakah smartphone BlackBerry salah tempat atau hilang. Jika smartphone BlackBerry dianggap tidak dapat diselamatkan lagi, pengguna dapat melihat data yang sudah di-backup sebelumnya dari smartphone BlackBerry yang lain melalui web portal i-Guard.
4. Loved-One Tracker
Kemampuan untuk menambahkan pengguna yang terpercaya misalnya pasangan atau keluarga. 'Loved-One' untuk melacak pengguna smartphone BlackBerry yang telah dilengkapi i-Guard melalui web portal i-Guard.
5. Remote Listen
Kemampuan untuk mendengar dari jarak jauh suasana di sekitar smartphone BlackBerry yang hilang atau salah tempat
6. Personal Guardian
Kemampuan untuk membuat suatu panggilan darurat dengan menekan satu tombol push pada smartphone BlackBerry. Ketika diaktifkan, akan mengirim email, SMS dan atau telepon untuk mengirimkan pesan darurat dan meminta pertolongan.
7. SIMCard Guardian
Kemampuan yang memungkinkan pengguna untuk mendaftarkan IMSI Sim Card yang digunakan dalam BlackBerry dengan aplikasi i-Guard. Setelah terdaftar, setiap anonim SIM akan ditandai melalui email yang dikirimkan ke pengguna dan pelacakan secara otomatis akan dihidupkan.
Menurut Direktur Marketing Indosat, Guntur S Siboro, dalam tren mobilitas seperti saat ini, data yang disimpan di perangkat dan pengamanan data pengguna menjadi sangat penting. Ia meyakini, SmrtGuard memahami kebutuhan dari pengguna dengan memberikan fasilitas perlindungan data, anti-pencurian dan memiliki kemampuan pelacakan yang baik.
"i-Guard powered by SmrtGuard kami harap sudah bisa tersedia pada pertengahan 2009 untuk semua pelanggan BlackBerry Indosat di seluruh Indonesia," tandas Guntur dalam keterangan tertulisnya
Monday, April 13, 2009
Sadar Wisata Warga Perlu Ditingkatkan
Sangat disayangkan karena ulah sebagian masyarakat Loksado yang mengenakan tarif parkir seenaknya di obyek wisata air panas Tanuhi menjadikan citra kepariwisataan daerah setempat jadi kurang baik, lanjut juru bicara Pemkab HSS itu di Kandangan, sekitar 135 Km utara Banjarmasin, Selasa.... Read More..>>>
Harga Cabai Rawit Merah Kembali Naik
"Saya tidak tahu kenapa harga cabai rawit merah kembali naik," kata pedagang sayuran di pasar induk buah dan sayuran Giwangan Yogyakarta, Ny Dalroji, Selasa.
Ia mengatakan hanya menyiapkan stok secukupnya mengingat cabai rawit merah tidak tahan lama, apalagi harganya naik.
Berbeda dengan cabai rawit merah, untuk harga cabai merah besar justru turun dari Rp11.000 per kg menjadi Rp9.000 per kg, sedangkan cabai merah besar keriting harganya tetap Rp9.000 per kg dan cabai rawit hijau bertahan Rp12.000 per kg..... Read More.>>>
Tuesday, November 25, 2008
Noken Keranjang Asli Khas Papua Belum Laris Terjual
Pantauan ANTARA di Jayapura, Rabu pagi, beberapa perempuan asli Papua menggelar noken di emperan pertokoan dan pinggiran jalan raya Achmad Yani, depan kantor Sentral Telepon Otomat yang berseberangan dengan Bank Papua di jantung Kota Jayapura. "Kami membuat karanjang Noken ini untuk dijual dengan harga yang berbeda-beda dari Rp10 ribu hingga Rp70 ribu per lembar sesuai ukurannya," kata salah seorang pengrajin Noken, Hellena Adii.
Dia menjelaskan, untuk kaum perempuan asli Papua, Noken yang elastis ini dapat mengisi ubi-ubian, keladi dan sayur mayur yang dibawa dari kebun atau hutan belantera. "Malahan, Noken ini juga dijadikan keranjang tidur bagi anak Balita yang dibawa ibunya ke kebun, pasar atau mencari makanan di tengah hutan belantera Papua," kata Helena.
Noken terbuat dari bahan dasar rotan, akar kayu atau tanaman anggrek dan kini kini noken bisa terbuat dari berbagai macam jenis benang nilon atau wol aneka warna.Motifnya juga beragam seperti bunga- bungaan, grafis, atau tulisan "AKU CINTA PAPUA". Sambil berjualan Noken, tampak jari jemari Hellena Adii tak pernah berhenti bergerak sejak sejam yang lalu.
Helaian benang kuning dan cokelat yang tampak berseliweran di pangkuannya perlahan-lahan terjalin rapi dan massif mengkuti jarum rajut yang naik turun. Motif Pulau berbentuk badan seekor burung mulai tampak. Perempuan asal Paniai berusia 28 tahun ini sedang membuat "traditional art" khas Papua itu. Bersama Hellena terlihat juga rekan perempuan lainnya Vero Pekei dan Yosiana Dow dan beberapa wanita lainnya. "Membuat dan menjual Noken sudah merupakan pekerjaan kami setiap hari untuk menopang hidup rumah tangga," kata Vero Pekei.
Bagi orang awam menganyam -menjalin benang menjadi sebuah noken memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Noken yang dibuat bisa memakan waktu satu hingga tiga hari, tergantung ukurannya. "Rata-rata kami menjual noken ini seharga Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per lembar. Mungkin cukup mahal tetapi harga ini masih tergolong murah jika dibandingkan dengan keringat yang kami tumpahkan untuk membuat satu Noken," kata Vero.
Dengan berjualan noken, Vero Pekei berharap dapat mewujudkan cita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti STISIPOL Jayapura atau UNIYAP jurusan sosial. "Saya mau kuliah sambil menjual noken," katanya. Sementara itu, Yosiana Douw, ibu rumah tangga beranak empat ini sambil menganyam dan menjajakan noken mengakui kalau pekerjaan ini merupakan salah satu sumber nafkah bagi keluarganya. "Suami hanya petani. Jadi saya buat noken untuk kasih makan anak-anak di rumah," katanya.
Dia mengakui kalau, hingga kini pemerintah belum memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk mempromosikan Noken ke luar Papua. "Kami butuh bantuan pemerintah atau LSM untuk memperkenalkan Noken khas Papua ini ke luar tanah Papua agar semakin banyak orang berminat membeli dan memiliki noken, keranjang khas Papua," katanya.
Anyaman benang ini punya diversifikasi model. Tak hanya noken tetapi juga kalung, gelang, tempat ponsel dan topi bisa juga dihasilkan dari rajutan nilon dan wol. Produk- produk berukuran kecil tersebut dijual seharga Rp10 ribu hingga Rp70 ribu per buah atau per lembar.
Ref : Papua
Disnak Bali Bantu 100 Bibit Sapi Betina
"Bibit sapi induk yang diserahkan kepada tiga kelompok di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, mendapat dukungan APBD Bali 2008," kata Kepala Dinas Peternakan Propinsi Bali, Ida Bagus Ketut Alit di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, bantuan bibit sapi betina tersebut masih akan dilanjutkan dalam tahun 2009 sebanyak 80 ekor kepada kelompok lainnya di luar Kabupaten Klungkung.
Pengadaan bibit sapi tersebut mendapat dukungan APBD Bali yang sebanyak 40 ekor dan pemerintah pusat juga 40 ekor.
"Dinas Kesejahteraan Sosial juga ikut membantu pengadaan bibit sapi yang diberikan kepada keluarga miskin sebagai modal kerja," ujar Ida Bagus Alit.
Keterpaduan antar instansi tersebut diharapkan dapat memacu pembangunan sektor peternakan khususnya sapi, yang sanggup meningkatkan pendapatan masyarakat, karena prospeknya yang cukup bagus.
Bagus Alit menjelaskan, sapi Bali tercatat satu-satunya sumber plasmanutfah yang tidak ada saingannya, baik untuk pengembangan bibit maupun sapi potong.
Kualitas sapi Bali sangat unggul dibanding dengan sapi-sapi lainnya di Tanah Air, sehingga menjadi rebutan para pengusaha untuk dapat membeli sapi tersebut.
Selain itu memiliki kekhasan, dagingnya rasa gurih dan empuk, mutunya sanggup bersaing dengan daging impor yang selama ini didatangkan oleh kalangan restoran dan hotel berbintang.
Untuk itu Bali sengaja membatasi perdagangan sapi, baik untuk antarpulau maupun pemotongan bagi konsumsi masyarakat setempat serta keperluan hotel dan restoran.
"Jatah untuk tahun 2008 sebanyak 75.000 ekor, hingga kini sudah terealisasi 72.983 000 ekor, dan sisanya akan terbagi habis hingga akhir tahun," ujar Bagus Alit.
Ref : Bali Nusa Tenggara
Harga Telur Ayam di Palembang Turun
Menurut pedagang, turunnya harga tersebut karena pasokan dari sejumlah daerah penghasil melalui pengusaha peternak ayam petelur di daerah ini cukup banyak dan lancar, sedangkan permintaan konsumen stabil.
Salah satu pemilik toko penyalur bahan pokok di Pasar 7 Ulu mengatakan, harga tersebut dalam sepekan ini diperkirakan masih akan mengalami penurunan, namun mulai awal Desember diprediksi akan naik karena memasuki Idul Adha.
Biasanya beberapa hari menjelang hari besar keagamaan, harga telur ayam ras akan naik, karena jumlah permintaan konsumen meningkat. Dalam dua hari terakhir permintaan telur ayam menurun, namun awal Desember nanti diperkirakan terjadi peningkatan jumlah permintaan karena menjelang perayaan Idul Adha.
Sementara harga daging ayam potong justru sebaliknya terjadi kenaikan karena jumlah pasokan ke pasaran berkurang, sedangkan permintaan konsumen stabil.
Salah seorang pedagang mengatakan, harga daging ayam potong sekarang tercatat Rp22 ribu per kg naik dibanding pekan lalu Rp20 ribu per kg. Harga daging ayam di pasaran dalam sebulan terakhir ini, menurut Ardhi, pedagang setempat, tampaknya harga belum stabil atau selalu berfluktuasi tergantung jumlah pasokan dan permintaan.
Ref : Sumatra
Kontraktor Pekerjaan Jalan Trans Sulawesi Terancam Didenda
Kepala Satuan Kerja Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Sulbar, M. Jafar, di Mamuju, Selasa, mengatakan, jika kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan proyek jalan tersebut hingga akhir Desember 2008, akan didenda sebesar lima persen dari total anggaran proyek itu.
"Uang jaminan kontraktor juga akan disita dan akan digunakan oleh pemerintah untuk menyelesaikan pekerjaan proyek tersebut," ujarnya
Ia mengatakan, kontraktor pekerjaan jalan di jalur trans Sulawesi tersebut, baru merampungkan pekerjaannya yakni pelebaran jalan dari 4,5 meter menjadi tujuh meter.
Sehingga, kata dia, pekerjaan jalan yang menggunakan anggaran APBN tahun 2008 sebesar Rp20 miliar itu belum sepenuhnya rampung 100 persen.
"Pekerjaan jalan itu masih akan diperlebar sekitar empat meter dari tujuh meter yang telah dikerjakan kontraktornya hingga lebar secara keseluruhan sekitar 11 meter sesuai surat perintah kerja proyek tersebut," ujarnya.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan memberikan peringatan kepada kontraktor pekerjaan jalan tersebut yakni PT Bumi Karsa untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Mengenai kualitas pekerjaan jalan tersebut, Jafar, belum menilai hasil pekerjaan kontraktor jalan di jalur trans Sulawesi tersebut karena pihaknya masih memberikan kesempatan kontraktor untuk mengerjakan sesuai bestek.
"Nanti, setelah proyek ini rampung, baru kami evaluasi," ujarnya
Sementara itu, aktivis Lembaga Kajian dan Isu Strategis Manakarra (Laksim), Bakri menilai, pekerjaan jalan di jalur trans Sulawesi tersebut dikerjakan asal jadi, karena sebagian badan jalan yang dikerjakan telah rusak dan bergelombang karena aspalnya sangat tipis.
Ref : Sulawesi
Hewan Kurban Diharuskan Periksa Kesehatan
Ketika dikonfirmasi, di Ambon, Selasa, Abu memastikan, Maluku selama ini bebas penyakit hewan, tetapi tidak berarti pemeriksaan kesehatan sapi dan kambing yang biasanya dimanfaatkan sebagai hewan kurban terbaikan.
"Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan, Pertanian dan Peternakan(Dishutanak) Kota Ambon sebagai daerah pemasaran hewan kurban agar dilakukan pemeriksaan pada "pintu-pintu masuk" pemasokkan sapi dan kambing dari Pulau Seram maupun Buru sebagai sentra ternak agar terjamin kesehatannya sebelum disembelih guna dibagikan bagi para kaum duafa," tegasnya.
Begitu pun, sapi maupun kambing betina yang masih produktif dilarang untuk dipotong maupun diantarPulaukan ke luar daerah Maluku.
Abu juga mengingatkan masyarakat di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya(MTB) agar menghentikan kegiatan perdagangan kerbau ke Kupang, NTT maupun Surabaya, Jatim karena hewan besar ini tergolong plasma nuftah.
"Populasinya juga saat ini hanya berkisar ribuan ekor sehingga perlu pengembangan agar tidak punah karena berdasarkan pemantauan sering dijual kepada para pedagang antarPulau yang teridentifikasi berasal dari Kupang dan Surabaya," katanya.
Pantauan ANTARA, sapi kurban di Kota Ambon dijual bervariasi Rp2,5 juta - Rp5 juta tergantung jenis kelamin - umur dan besarnya, sedangkan kambing Rp1 juta -Rp1,5 juta.
Ref : Maluku
Nelayan Kotabaru Rame-Rame Membangun Bagan
Taufik, salah seorang nelayan bagan di Sarang Tiung, Selasa, mengungkapkan, hampir sebagian besar nelayan di desanya hampir tiga pekan ini membangun bagan.
"Karena saat ini musim bagan kena (mendapatkan hasil tangkapan yang cukup banyak), meskipun harga ikan murah, tetapi karena hasil tangkapannya lebih banyak dari biasanya mereka berlomba-lomba menambah jumlah bagan," katanya.
Dijelaskan Ufik, nelayan cukup meminta modal untuk membeli peralatan bagan kepada juragan. Karena juragan sudah menyiapkan modal untuk membangun bagan tersebut.
Nelayan meminjam modal awal kepada juragan, pembayarannya akan diangsur saat mendapatkan hasil tangkapan dalam beberapa bulan, bahkan hingga dua tahun.
"Setiap bagan memerlukan modal sekitar Rp8-Rp15 juta per unit bagan," kata Juhriansyah, mantan Kepala Desa Sekapung.
Untuk satu juragan dapat memberikan pinjaman modal usaha kepada 10-30 nelayan.
Menurut mantan kades tersebut, dengan cara tersebut nelayan untung, karena mendapatkan pinjaman modal usaha, mereka juga tidak kesulitan menjual hasil tangkapannya membagan.
"Juragan biasanya membeli ikan bilis, cumi-cumi dan ikan hasil bagan ke setiap rumah nelayan. Dan nelayan tanpa mengeluarkan biaya untuk tarnspotasi," katanya.
Sementara itu, agar memperoleh hasil yang lumayan, nelayan mulai menggunakan lampu bagan dengan mesin jenset. Mereka tidak lagi menggunakan lampu petromak, karena redup dan biayanya mahal.
Sebelumnya, Ramang (49), Ketua RT 5 Desa Gedambaan, hampir sebagian besar pembagan di Pulau Laut Utara tidak lagi menggunakan lampu petromak, karena biaya operasionalnya lebih mahal dibandingkan dengan biaya operasional menggunakan mesin jenset, karena hampir setiap malam mengganti kaca lampu, kaos, jarum, spuyer dan klep pompa.
"Kalau dihitung-hitung biaya membagan dengan menggunakan lampu petromak dan mesin jenset hampir sama yakni, sekitar Rp30.000 - Rp50.000 setiap malam. Tetapi warga kami lebih untung menggunakan mesin jenset, karena tidak perlu memompa setiap 30 menit seperti memompa lampu petromak," kata Ramang.
Selain lebih efektif dengan menggunakan mesin jenset, hasil tangkapannya nelayan juga lebih besar dengan menggunakan mesin listrik jinjing tersebut, karena pencahayaan sembilan lampu TL yang dipasang di tengah bagan lebih luas dan dalam ke dasar laut dibanding pencahayaan lampu petromak.
"Kalau menggunakan lampu petromak, ikan semua jenis yang berhasil kami tangkap berkisar rata-rata 20-25 kg per malam, tetapi dengan menggunakan lampu TL ikan yang kami tangkap dalam semalam bisa mencapai 30-50 kg," Abdul Rauf, salah seorang nelayan bagan di Desa Gedambaan yang sudah sekitar empat bulan menggunakan mesin jenset berkapasitas 900 what.
Menurut para nelayan bagan tradisional, sejak dimulainya penerangan bagan dengan menggunakan mesin jenset penghasilan mereka meningkat dua kali lipat, dari Rp30.000 per malam menjadi Rp60.000 - Rp80.000 setiap kali berlabuh (per malam).
Ref : Kalimantan
Harga Hewan Kurban Melonjak
"Kenaikan harga itu akibat biaya transportasi dan perawatan hewan mahal," kata Agus (34), penjual hewan kurban, di Jalan Veteran Semarang, Selasa.
Ia mengatakan, kenaikan harga pada sapi dan kambing jantan, sedangkan yang betina harganya masih normal. Ia mengaku, seluruh barang dagangannya berasal dari Pati, Jawa Tengah.
Ia menyebutkan, harga jual sapi mulai dari Rp7,5 juta sampai Rp12 juta per ekor, sedangkan harga kambing berkisar Rp750 ribu sampai Rp1.750 ribu per ekor.
"Kalau tahun sebelumnya, harga kambing hanya berkisar Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta per ekor," katanya.
Agus mengaku, saat ini permintaan pembeli masih sepi meskipun sudah ada beberapa calon pembeli yang menanyakan harga jual hewan kurban.
"Kebanyakan pembeli masih mengamati harga belum sampai memesan," katanya.
Menurutnya, pemesanan hewan kurban akan mulai terlihat mulai H-10 sampai H-5. Dia mengatakan, biasanya pembeli lebih banyak menitipkan hewan yang telah dibelinya.
"Baru H-1 Lebaran, kita mengirimkan hewan ke tempat para pembeli," katanya.
Ia mengatakan, penjualan hewan kurban dari tahun ke tahun semakin banyak saingan. Meskipun tahun sebelumnya dirinya mampu menjual 37 ekor sapi, untuk sementara tahun ini dirinya baru menyediakan 10 ekor sapi.
"Hewan kurban ini sebagian ada yang milik saya dan sebagian yang lain diambil dari peternak lain," kata Agus yang selalu menjadi pedagang hewan kurban musiman ini.
Ref : Jawa
Pegawai Industri Sawit Masih Terhindar Dari PHK
"Untuk karyawan sendiri saya rasa PHK tidak perlu dilakukan, karena tidak mudah mencari karyawan yang sesuai saat krisis berakhir," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Akmaluddin Hasibuan, di Jakarta, Senin.
Dia mengatakan hal yang dilakukan pengusaha kelapa sawit untuk mengurangi biaya produksi adalah mengurangi tenaga pemborong agar lebih efisien.
Menurut dia, PHK bisa terjadi jika `capital structure` perusahaan sawit tidak kuat, bunga bank terlalu tinggi sehingga tidak mampu menahan PHK.
Akmaluddin mengatakan perlu adanya perbaikan `capital structure` jika memang PHK terjadi pada industri ini, katanya.
"Perlu dilihat memang komposisi luar perusahaan sendiri, jika 90 persen dana dari kredit pasti akan mati karena bebannya terlalu tinggi. Jadi BI Rate memang perlu ditinjau lagi," ujar dia.
Lebih lanjut, dia mengatakan, pertumbuhan permintaan kelapa sawit 2009 nanti akan mengalami perlambatan. Bagi "new comer" di saat perekonomian dunia memburuk hanya bisa bertahan saja.
Namun demikian situasi berbeda akan diterima oleh perusahaan kelapa sawit yang telah mapan, ujar dia. Perusahaan sawit tersebut justru mulai merasakan sedikit "win fall profit" dari penjualan "crude palm oil" (CPO).
Sementara itu, menurut dia, volume produksi sawit Indonesia tahun 2009 mencapai 19,5 juta hingga 20 juta ton. Angka tersebut tidak lah terlalu signifikan mengingat tanaman sawit tua sudah mulai sedikit berproduksi.
Harga prediksi CPO untuk tahun 2009, menurut dia, secara empiris akan mencapai 518 AS dolar per ton. Harga tersebut belum masuk pada harga wajar sebenarnya yang mencapai 600 AS dolar per ton.
Ref : National